Memupuk Ketahanan Bencana dari Sekolah

Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) punya sejarah panjang soal bencana. Pada Desember 1992 gempa 7,8 Skala Richter (SR) menguncang Kabupaten Sikka. Menyebabkan korban jiwa 3000 orang meninggal, 5000 lainnya mengungsi, dan 18.000 orang kehilangan rumah. Tsunami setinggi 36 meter menyapu Maumere, kota pelabuhan di Pulau Flores yang paling parah terkena dampak bencana ini. 

Walau begitu, Maumere juga punya catatan lain tentang bencana. Pada Januari 2012, sekitar 350 orang, terdiri dari murid, guru dan masyarakat Maumere merekonstruksi peristiwa 1992 dalam latihan simulasi bencana. “E do, E do. Wai tahi lema dang E do! (Gempa. Gempa. Air laut naik dan ada gempa)!” Begitu Raul dan teman-temannya mengawali cerita tentang simulasi di Sekolah Dasar Kristen (SDK) 2 Maumere,  Menurut skenario simulasi, itulah tanda bahwa setiap orang harus bersiap untuk evakuasi.

Pengurangan Risiko Bencana di SDK 2 Maumere
Raul adalah murid kelas lima di SDK 2 Maumere. Ditemui bersama enam orang temannya, mereka bercerita tentang simulasi. Ada yang menjadi tim keamanan, tim tenda dan ada pula yang bertugas di dapur umum. “Saya berperan sebagai tim kesehatan, bawa tandu.” ujar Raul. Dia juga merasa senang bisa menyelamatkan banyak korban dalam simulasi. 

Bersama murid lainnya Raul terlibat dalam simulasi di lapangan sekolah yang berumur lebih dari 100 tahun itu. Guru dan staf sekolah, termasuk masyarakat sekitar turut berpartisipasi. Inisiatif ini dilakukan oleh lembaga setempat, Wahana Tani Mandiri (WTM), bersama Oxfam atas dukungan AIFDR (Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction). AIFDR adalah  lembaga kerjasama bilateral pemerintah Australia yang bekerja dalam penguatan kapasitas Indonesia mengurangi dampak bencana

“Diharapkan, kegiatan simulasi ini dapat membangun kapasitas sekolah untuk memahami berbagai cara menyelamatkan diri saat bencana” ujar Wisnu Wijaya, Direktur Kesiapsiagaan – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam kesempatan terpisah. Lewat program Pengurangan Risiko Bencana (PRB) ini, “kami ingin mengenalkan sekolah akan pentingnya pengetahuan dan informasi tentang bencana,” ujar Win Keupung, Direktur WTM.

Manfaat program ini dirasakan dampaknya langsung oleh para murid. Setidaknya itu yang disampaikan Laura, siswi SDK 2. “Saya dulu takut akan (ancaman) bencana sebab rumah saya di dekat pantai. Tapi setelah mendapatkan pengetahuan tentang PRB, saya menjadi tahu apa yang harus dilakukan sebelum bencana, saat bencana dan setelah bencana.”

MIS Wuring Siaga Bencana
Selain di SDK 2, simulasi bencana juga dilakukan di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Wuring. Di sekolah yang berada kampung nelayan itu, ada 330 orang yang terlibat, dihadiri pula oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka, Michael Mane. Pada gempa Sikka tahun 1992, daerah yang penduduknya mayoritas dari suku Bugis dan Bajo ini menjadi lokasi terparah.

“Kami memang sudah terbiasa dengan bencana, namun kami tetap harus siaga” kata M. Syahrul, Kepala Sekolah di MIS Wuring. Setiap hari, air pasang setinggi 50-80 cm melanda halaman sekolah di pinggir pantai itu. Sudah berbulan-bulan mereka sulit untuk berolahraga dan melakukan upacara bendera disana.

Seperti di SDK 2, simulasi bencana di MIS Wuring melibatkan seluruh elemen sekolah dan masyarakat sekitar. “Sekolah ini paling rentan terhadap bencana, karena berada di pinggir pantai dan daerah zona merah (bahaya).” ujar Michael Mane. “karena itu, kita wajib belajar cara menyelamatkan diri sehingga mengurangi korban.”

Fajar, murid di MIS Wuring punya pendapat sendiri soal simulasi ini. Dia mengatakan kalau belajar tentang siaga bencana, ternyata bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan. “Kami belajar tentang bencana sambil bernyanyi.” Sambil bertepuk tangan, Fajar menyanyikan lagu yang diajarkan di dalam program pengurangan risiko bencana ini. “Kalau ada gempa, hindari kaca. Kalau ada gempa, lindungi kepala. Kalau ada gempa, lari ke tempat terbuka” begitu lirik lagu yang masih diingat Fajar.

Berawal di Sekolah, Bersemai di Masyarakat
Win Keupung menambahkan, murid-murid seperti Raul, Laura dan Fajar adalah bagian penting dari program ini. “Mereka akan dapat menjadi contoh, dan mengajarkan orangtua untuk siaga bencana. Sehingga, pengetahuan akan kesiapsiagaan bencana akan tercipta di masyarakat.” Selain pertemuan rutin, WTM juga membuat modul panduan sekolah siaga untuk mendukung program ini.

 

Sikka tidak hanya rentan terhadap gempa, tetapi juga terhadap bencana lain. Gelombang pasang, banjir, angin puting beliung, longsor dan letusan gunung berapi silih berganti mendatangi daerah yang dekat dengan Pulau Komodo ini. Akibatnya, ada beberapa daerah di pulau terbesar kedua di NTT ini mengalami rawan pangan.

 

 “Usaha ke arah sana memang tak mudah,” Sambil menunjuk buku panduan miliknya Win menambahkan , “melalui program ini, kami ingin membangun ketahanan bencana di masyarakat.”

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>