Tak Hilang Harap Untuk Indonesia

 

Ada hal-hal yang membuatku tak hilang harap terhadap Indonesia. Ada beberapa perkara kecil yang membuatku tak pernah putus asa pada negeri ini. Dua gambar dibawah, adalah salah satunya.

 

Menemani Bapak Kerja

Seorang anak pedagang warung nasi, menenami ayahnya bekerja sambil belajar.

Seorang anak sedang membaca buku di jembatan penyeberangan.

Seorang anak sedang membaca buku di jembatan penyeberangan.

Berani, Jujur, Hebat

Berani-jujur-300x224

Bertepatan dengan Hari Anti Korupsi, 9 Desember Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga anti rasuah di negeri ini meluncurkan sebuah kampanye dengan tema “Berani, Jujur, Hebat. Menggunakan logo bulat berwarna merah dengan pilihan font kapital, upaya perlawanan terhadap korupsi itu ditandai dengan pemasangan spanduk raksasa di kantor KPK di Kuningan, Jakarta. 

Spanduk berukuran 30×60 meter dengan berat 100 kg itu, dipasang dengan dibantu relawan dari Kartini Petualang dan Cicak Pemanjat. Sejumlah spanduk bertuliskan sama juga dipasang di beberapa tempat, diantaranya Kantor Kejaksaaan Agung dan Mabes Polri. 

 

 

Perubahan tak Berasal dari Media Sosial

Saya akan lengkapi judul diatas. Perubahan tak berasal dari media sosial. Namun, masyarakat dan–dalam ukuran yang lebih kecil–orang lah yang memungkinkan terjadinya perubahan sosial. 

Perubahansosial

Kesimpulan itu saya dapat ketika membaca sebuah tulisan singkat tentang media baru di website World Bank. Dalam laporan tahun 2011 yang berjudul New Media: Challenging the Establishment disebutkan: penting untuk diingat bahwa pada akhirnya orang-lah yang akan akan mampu membawa perubahan sosial. Bukan perangkat, bukan platform teknologi yang dikembangkan untuk tujuan tersebut.

Sejumlah eksperimen yang dicatat menunjukkan bahwa banyak kampanye media, sesungguhnya tidak benar-benar melakukan perubahan struktural. Apa sebabnya? Bisa jadi, itu bermula dari ketidakjelian kampanye perubahan sosial untuk membidik target dan tujuan yang jelas. Ditambah juga dengan kurangnya sumberdaya untuk mengawal proses perubahan, kredibilitas pembawa pesan kampanye yang meragukan atautiadanya ukuran jelas keberhasilan sebuah kampanye.

Meningkatnya jumlah fans di halaman facebook, banyaknya jumlah follower di Twitter, dan melonjaknya penonton di Youtube, bisa jadi ukuran mudah–dan cenderung cara singkat–untuk menunjukkan keberhasilan sebuah kampanye perubahan sosial. Tapi menurut saya, itu sama halnya dengan mengatakan bahwa perubahan sosial adalah hal yang instant, perkara sekejap–sesuatu yang tabu bagi dalam kajian komunikasi perubahan sosial. 

Betul bahwa internet dan media sosial memfasilitasi secara signifikan dan menggerakkan partisipasi serta kesadaran massa untuk terlibat dalam perubahan sosial. Namun kebanyakan kampanye sosial–yang saya lihat di Indonesia–hanya berhenti pada titik ini.

Mari kita lihat fenomena kampanye perubahan sosial di negeri ini. Seringkali, kampanye perubahan sosial berawal dari segelintir elit, menyasar di kota-kota besar, bermodal hashtag, dan kadangkala ditebengi oleh penempatan produk komersil. Kampanye ini kadang hanya berusia pendek, dan menciptakan keriuhan sesaat. Entah, apakah karena kita memang bangsa pelupa, namun biasanya beberapa bulan kemudian segelintir elit yang sama itu akan memulai kampanye perubahan sosial lain, lewat pola yang sama. Orangnya itu-itu saja. 

Jangan keliru, saya tidak dalam posisi menentang hal semacam ini. Ada beberapa kampanye yang saya berikan apresiasi lewat pendekatan yang unik dan berbeda. Namun, pola berulang ini menjadi mengkhawatirkan jika kemudian masyarakat mengganggap setiap perubahan sosial adalah “business as ussual”, perkara bisnis semata. 

Saya memilih untuk percaya, bahwa perubahan sosial seharusnya dilakukan dengan konsisten dan berjangka panjang. Tidak sesaat, bukan instant dan sekejap. Sebab perubahan itu tak diraih dalam kurun yang singkat, upaya itu memerlukan nafas panjang dan ketekunan. Dan, ini yang paling penting, haruslah menekankan pada orang, pada manusia. Pada masyarakat. 

 

Berbagi Lewat Lisensi

350px-ccid_logo-300x102

Berikut, artikel dari Majalah Tempo, Edisi 4140 – 3-9 Desember 2012 yang berisi tentang penerapan lisensi Creative Commons di Indonesia. Creative Commons Indonesia (CCID) secara resmi diluncurkan bulan lalu, pada tanggal 11 November 2012. Pembukaan CCID menutup rangkaian kegiatan Konferensi Asia Pasifik Creative Commons di Jakarta. 

Selamat membaca!

——

Berbagi Lewat Lisensi

Sekelompok anak muda memelopori penerapan lisensi Creative Commons di Indonesia. Diyakini banyak manfaatnya, tapi masih kurang dukungan.

Akhir tahun tampaknya bakal menjadi hari-hari sibuk bagi tiga pria belia asal Bandung ini. Di sela-sela jadwal pentas dalam negeri, mereka kembali diundang tur mancanegara. Karena itu, selain menjaga kebugaran fisik, ketiganya perlu memastikan seabrek peralatan manggung mereka selalu berfungsi baik. “Personel kami sedikit, tapi peralatan kami lumayan banyak,” kata Yulius Iskandar, Manajer Bottlesmoker, band elektronik asal Bandung itu, pekan lalu.

Pada pekan kedua Desember nanti, Yulius akan bertolak ke Bangkok bersama dua personel Bottlesmoker, Anggung “Angkuy” Suherman dan Ryan “Nobie” Adzani. Mereka akan tampil dalam Big Mountain Music Festival, perhelatan musik terbesar di Thailand tahun ini. Setelah itu, mereka akan menghibur pengunjung sejumlah kafe di ibu kota Negeri Gajah Putih itu. “Untuk bertahan hidup, kami memang mengandalkan hasil pentas,” ujar Yulius.
Continue reading

Mimpi dan Keajaiban

Saya pernah bermimpi ingin jadi pesulap. Menciptakan keajaiban-keajaiban sederhana. Melukiskan kurva senyum di wajah anak kecil. Membuat mereka bahagia dengan benda-benda yang saya bawa. Bisa jadi tak ada tepuk tangan panjang. Tapi, beberapa potong tawa sudah membuat saya senang. 

Childrens_wish_foundation

Ingatan itu muncul kembali ketika saya melihat video kampanye dari Children Wish, sebuah lembaga nirlaba asal Kanada. Lembaga ini berupaya untuk mewujudkan mimpi setiap anak yang didiagnosa memiliki penyakit yang mengancam nyawa mereka. Mereka diperbolehkan mengirimkan daftar mimpi kepada lembaga ini, kemudian daftar itu akan dipilih berdasarkan rekomendasi. Sebuah upaya membangkitkan harapan dan keinginan untuk sembuh kepada anak-anak itu. 

Ada banyak mimpi yang diajukan. Kebanyakan, berkisar tentang pergi ke tempat-tempat wisata, bermain, boneka dan bertemu dengan para pesohor. Berikut, video buatan dari KBS+P Toronto

 

[vimeo http://www.vimeo.com/54052455 w=398&h=224]

Kampanye Dungu dan Kampanye Tolol

Apa yang membuat sebuah kampanye diterima oleh publik? Ada banyak sebab. Salah satunya, adalah pilihan kata yang tepat. 

Mari kita simak dua iklan layanan masyarakat dengan tema keselamatan di jalan raya ini. Kampanye pertama berasal dari Australia, berjudul “Cara-cara Dungu untuk Mati” – “Dumb Ways to Die”. Kampanye dengan menggunakan tiga menit animasi ini, diluncurkan oleh pengelola Metro Trains, sebagai upaya mengurangi kecelakaan pengguna kereta api di Melbourne. Tujuannya adalah untuk mengaet publik yang tak mau mendengar pesan yang berat dan menggurui. 

Screen-shot-2012-11-16-at-11

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=IJNR2EpS0jw]

Video animasi yang ditulis oleh John Mescall dari McCann itu menampilkan pesan bahwa banyak cara untuk mati, dan ditabrak kereta adalah sesuatu yang sebenarnya bisa dihindari. Dengan menggunakan tokoh yang imut dan grafis yang bersih, kampanye ini juga menggunakan musik yang “easy listening” dari musisi setempat, Tangerine Kitty. Laman Tumblr, yang berisi potongan gambar video kampanye juga tersedia disini

Kampanye berikutnya datang dari negeri sendiri, Indonesia. DILARANG TOLOL. Itulah slogan utama yang menjadi sorotan kampante ini. Dikutip dari website mereka:

“Dilarang Tolol adalah kampanye untuk mewujudkan jalanan yang aman di Indonesia. Kampanye ini bagian dari dukungan kami untuk Decade of Action for Road Safety yang diprakarsai oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Semua data yang disampaikan dalam situs ini dikompilasi dari informasi yang ada pada The United Nations Road Safety Collaboration (UNRSC).”

Poster-tolol-versi-motor

Kampanye yang didukung oleh Tunas Cendekia ini memakai kata yang–saya gunakan kata yang halus–provokatif. Kata “TOLOL” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Kateglo berarti “sangat bodoh” atau “bebal”. 

Bisa jadi, pengagas yang ada di belakang kampanye ini, sangat bersemangat dalam memilih kata. Mereka menggunakan diksi “kasar” dan superlatif untuk menyasar target dan sasaran kampanye. Tidak cukup dengan menggunakan “bodoh”, kata TOLOL yang merupakan bentuk superlatif dari bodoh dijadikan pesan utama dan menjadi merek akun di media sosial. Makna peyoratif yang ditimbulkan oleh kedua kata itu berbeda, dan memiliki nilai rasa bahasa yang tak sama. 

Kampanye pertama menggunakan kalimat yang dapat dimasukkan dalam komunikasi persuasif. Sementara, pilihan kata yang dipakai kampanye kedua, koersif. Koersif dapat berarti ancaman, paksaan, dan punya relasi erat dengan kekerasan. 

Manakah yang lebih tepat digunakan untuk kampanye perubahan sosial? Tak ada jawaban mujarab untuk semua ini. Sebab kampanye perubahan perilaku, adalah sesuatu yang melibatkan banyak hal. Namun, jika boleh saya menilai,semuanya akan tergantung pada siapa target yang dijadikan sasaran kampanye.

Lapisan masyarakat yang mana yang akan menjadi fokus dan sorotan, dan menjadi publik penerima pesan-pesan kampanye, itulah salah satu kunci yang harus dipahami oleh seorang perencana komunikasi perubahan perilaku. Identifikasi detil mengenai gaya berbahasa, pilihan kata dan corak grafis akan menentukan dan mendefinisikan khalayak yang menjadi target.

Merancang sebuah pesan dalam kampanye komunikasi sosial, membutuhkan serangkaian pemahaman tentang target masyarakat yang dipilih. Aplikasi dari pemahaman itu, pada akhirnya akan menentukan ragam pesan yang diambil. 

Kedua kampanye diatas, punya target yang berbeda. Oleh karenanya, punya pilihan kata yang berlainan pula. Menurut Anda, diantara dua kampanye diatas, mana yang lebih dapat diterima? 

 

Memupuk Ketahanan Bencana dari Sekolah

Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) punya sejarah panjang soal bencana. Pada Desember 1992 gempa 7,8 Skala Richter (SR) menguncang Kabupaten Sikka. Menyebabkan korban jiwa 3000 orang meninggal, 5000 lainnya mengungsi, dan 18.000 orang kehilangan rumah. Tsunami setinggi 36 meter menyapu Maumere, kota pelabuhan di Pulau Flores yang paling parah terkena dampak bencana ini.  Continue reading

Raul, calon Dokter dari Sikka

Raul terlihat menonjol diantara teman-temannya. Rambutnya lurus, kulitnya putih. “Ayah saya dari Filipina. Saya lama tinggal di Malaysia. Tapi saya tetap anak Indonesia” ujar murid kelas lima Sekolah Dasar Kristen (SDK) 2 Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini.  Continue reading

Siaga Bencana Urusan Bersama

Sabtu 12 Desember 1992, adalah hari yang tak dapat dilupakan Maria Modesta dan Carolina Tukan. Kedua perempuan penduduk Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu masih teringat pada gempa berkekuatan gempa 7,8 Skala Richter (SR) yang melanda Pulau Flores dan menyebabkan tsunami setinggi 36 meter. Continue reading

Jumiati dan Adonan Optimisme

Versi Bahasa InggrisJumiati, Always Optimistic

Erupsi Merapi mungkin telah mengambil rumah Jumiati.  Tapi bencana itu tak bisa merenggut optimisme perempuan dua anak ini.

Raut wajah Ibu ini tampak emosional ketika ditanya dimana rumahnya. Sambil menerawang, dia berkata  “Saya sudah tujuh kali berpindah rumah. Saya sudah capek.” Katanya sambil tetap menatap ke langit. “Rumah saya dulu di Bantul. Tapi terkena gempa disana. Lalu pindah ke (Dusun) Bakalan, tapi malah jadi korban lahar dingin. Total enam kali saya mengungsi. Sampai  akhirnya menetap di Huntara (hunian sementara) Gondang ini. Continue reading